(06/07) Ketika gerak pembangunan kita, terkonfirmasi
(06/07) Menghidupkan rantai nilai
(06/07) Menyelesaikan antara “telur atau ayam”
(06/07) Layanan Infrastruktur apa yang bisa kita wujudkan dengan dana Rp1 Triliun ?
(06/07) Pembangunan, Bukan Pembingungan
(06/07) Mendudukkan Pertanggungjawaban
(26/07) Mudik, Pergeseran Konsumsi Bandwidth Kita.
(26/07) "Menilai" Sendiri Kondisi Infrastruktur Kita
(26/07) Mentertawakan Diri Sendiri - Timpangnya Kecanggihan Fasilitas, Operatorship, dan Kesadaran Pengguna
(26/07) Pergerakan Sumber Daya Selama Mudik - Pembelajaran Tiada Akhir
(26/07) Setelah Semua Transportasi Massal, Terbangun
(26/07) Gimana Caranya Agar Pembangunan Infrastruktur Cepat Selesai dan Beroperasi Melayani Masyarakat Secara Tepat Waktu?
(09/08) Klasifikasi Infrastruktur menurut PaBim
(17/10) Seri Mengingat – Jembatan Ampera
(18/10) Seri Mengingat - Sistem Gerak Elevasi dan Depresi Jembatan Ampera
(19/10) Seri Mengingat - Ide dibalik Jembatan Ampera
(20/10) LRT Pendamping Jembatan Ampera
(24/10) 9 Ruas Jalan Tol Trans Jawa Era Presiden Jokowi
(25/10) MRT dan LRT, Moda Transportasi Ibukota (yang seharusnya)
(26/10) Manfaat Panel Surya Bagi Pulau-pulau 3T (Terdepan,Terluar dan Tertinggal)
(30/10) 4 Moda Transportasi Jelang Asian Games 2018
(31/10) Sumber Air Bersih di Jakarta
(01/11) Fasilitas Pendidikan di Indonesia
(02/11) Infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia
(07/11) Seri Mengingat – 5 Jembatan Sejarah Peninggalan Zaman Belanda

Gimana Caranya Agar Pembangunan Infrastruktur Cepat Selesai dan Beroperasi Melayani Masyarakat Secara Tepat Waktu?

By bimam | Jul 26, 2017

bikin saja olimpiade, KTT, atau minimal SEA Games. Ah - mosokkkk?

iyaaaaa... bener kok. sesederhana itu... !!! Dan selalu terbukti..

Begitu diumumkan sebagai agenda nasional, sontak semua faktor penunjang menjadi perhatian semua pihak yang bertanggungjawab sehingga infrastruktur apapun yang diperlukan menjadi segera terbangun. Sampai seusia 71 tahun merdeka, kita masih digerakkan oleh eksternalitas semacam ini. Oleh sesuatu yang berada di luar kita. Kalau urusan ke dalam, ke masyarakatnya sendiri, ada kata sakti yang bisa membereskan semuanya: harap maklum!

Seperti umumnya orang yang mau punya gawe... entah itu pernikahan, khitanan, atau ulang tahun, semuanya bersiap dan kompak... kontradik dengan keseharian mereka yang untuk makan siang saja kadang berantem, entah itu pilihan menu, siapa yang masak, siapa yang cuci piring. Tapi ketika ada event besar, tiba-tiba saja mereka semua kompak. Menghitung mundur waktu, membariskan semua kebutuhan yang diperlukan, dan membangunnya siang malam agar tidak malu di mata orang pada saat hari - H nya tiba.

Nah, memasuki persoalan berikutnya....

Bisa gak ya cara yang sama, yaitu adanya tekanan eksternal, kita pergunakan untuk memecahkan masalah BUDI PEKERTI dalam memanfaatkan layanan infrastruktur ? Agar pemotor tidak melawan arus, kendaraan tidak saling serobot jalur, saling menghormati antrian, dan terkadang justru rela memberi prioritas kepada yang lebih membutuhkan? Pabim mengundang ide-ide kreatif sobat sekalian dalam memecahkan berbagai permasalahan layanan infrastruktur yang menjadi bagian dari  keseharian kita